Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Mei 2013

selayang pandang kelas sastra pertemuan pertama





 



Akhirnya, terbentuk juga kelas sastra hari ini kamis 30 mei 2013, tepat pukul 23.00 WITA. Seperti biasa, semua yang kami lakukan hanyalah dari hasil mengobrol ringan kami. Maka disepakatilah kelas sastra yang kami beri nama “MINOR”, yang mana konsep kelasnya kami fokuskan pada produksi sastra, tapi kami  juga sepakat untuk sesekali  menyelinginya dengan apresiasi sastra.
Nah, ini dia nih mata pelajaran yang akan di pelajari nanti disini:
1.       Menulis ;  ya, untuk pertemuan perdana dan pertemuan-pertemuan berikutnya hingga pada petemuan yang…kami tak memberi  batasan dalam hal ini, tapi untuk sementara kami hanya akan belajar tentang menulis, tentu bersama kalian yang ingin ikut bersama kami.yuk~!

Senin, 06 Mei 2013

Besok Adalah Hari Raya



"saya merasa seperti besok adalah hari raya, selamat hari raya ya!"katanya sambil menatap lurus kedepan, selalu dengan kecepatan laju motor yang...saya berani jamin tak pernah lebih dari 40km/jam, ini bukan persoalan dia ingin menaati segala tetek-bengek tentang peraturan lalulintas dari makhluk berseragam itu. tidak, hanya saja, dia tak biasa sekalipun sedang tergesa.

Kamis, 13 Desember 2012

Tidak Ada

hmmm, ini aku, yang telah berbalik dan tak ingin menoleh lagi kepadamu. sulit, sebab aku keluar dari ruang yang kamu ciptakan dalam keadaan babak belur, nyaris kehabisan darah, aku sekarat. 

sore tadi, seseorang menghampiriku, mencoba mengingatkan aku pada kamu. sayangnya aku mulai lupa, hahhh...bukankah telah ku persiapkan ini sejak lama? aku lelah di perlakukan seperti kacung. seolah goyahnya kita adalah karena salahku. 

Sabtu, 08 Desember 2012

Kosong

Lihat dia,yang selalu ada di balik celah sana. Kalian lihat? Dia setia mengintipi dari sana, Mengawasiku tanpa ingin mengganggu, Apa kalian mengenalnya? Berapa kali tangannya tampak mengapai-gapai hendak menyentuhku , tapi selalu ia tarik kembali seolah segan.

Guratan wajahnya penuh asa. Tatapannya mengisyaratkan pilu. Sepertinya ia mulai lelah. Ia bosan menjadi penonton, ia tak ingin lagi menunggu. Yah, sampai kapan ia harus menungguku, menengok padanya.