Tampilkan postingan dengan label DIY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DIY. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2015

Cara Membuat tempat Pensil/Keranjang dari Majalah Bekas


siapkan alat dan bahan yang kita perlukan.yakni: majalah bekas,gunting,lem, dan lidi

Alat dan bahan yang disiapkan
mulailah menggulung lembar majalah yang sudah dibagi dua dengan arah  diagonal

selesaikan dan lem ujunya
hasil gulungan majalah

siapkan kulit majalah yang agak keras untuk bagian bawah keranjang
rapikan semua sisinya
nah,mulailah melem hasil gulungan seperti gambar di atas(perhatikan,salah satu sisi berjumlah dua!)
mulailah melipat ke arah samping hasil gulungan dari sisi yang berjumlah dua.Setiap sisi akan menindih sisi yang lain.SELESAIKAN!
 Dan, TADAAAA.......tempat pensilnya sudah jadi :D
SELAMAT MENCOBA! :)

Minggu, 26 April 2015

Rajutan buat Peka

                                
Hei ho, akhir-akhir ini cuaca sangat dingin ya, selain syal, switer, tentu mempunyai sebuah kupluk bisa menyelamatkan kita dari cuaca seperti ini, apalagi bagi para nokturno. Baiklah, tak usah dipanjang lebarkan hingga menjadi segi panjang atau segi lebar. Kali ini saya ingin menceritakan tentang pengalaman dan pengetahuan baru yang saya dapat sejak 9 bulan yang lalu dari kakak sani yang mau berbaik hati membagi ilmu merajutnya, dan ini gratis lho!

Kupluk ini sebenarnya telah jadi sejak 9 bulan yang lalu, jadi sudah dipakai dimana-mana dan dibawa kemana-mana, dan barangnya masih tepecaya hingga saat ini, sehat walafiat tak kurang sesuatupun. Setelah sebuah kupluk jadi, setiap melihat tas, switer, syall, saya jadi kepikiran bagaimana caranya supaya saya bisa membuatnya sendiri?

Jadi teman-teman, yang paling penting dari merajut itu adalah kita harus punya benang dan jarum untuk merajut dulu. Itulah mengapa saya buru-buru membeli 2 gulung benang yang cocok untuk kupluk sejak sani mengiyakan akan menemani saya belajar merajut kupluk, sedang jarumnya saya pinjam punya sani,hehhe.

Selain benang dan jarum, kita harus mampu membayangkan bahwa yang kita pegang itu bukan sekedar jarum dan benang sebagai kupluk, itu pulalah mengapa waktu ija bertanya “lagi sibuk apa sekarang eka?”,”ndak ada ji, Cuma belajar merajut ja sama sani” jawabku “mana mi rajutanmu? liat kag pale!“ Tanya ija lagi, “ini kupluk!” ucapku sambil menyerahkan jarum yang dililiti benang. Ija mungkin bingung  hingga dia diam saja. Tapi setiba diluar, didepan sani,titin, dan…aduhh, saya lupa nama temannya ija, mereka terhihikhihik. Jadi, kalau kalian tak mau dihihiki, jangan coba-coba mengatakan bahwa itu sesuatu sebelum jadi.

Baiklah, sudah ada benang dan jarum, pada akhirnya saya mulai merajut. Adapun teknik merajut yang saya pakai adalah, Sebenarnya banyak sih istilah dalam merajut, Cuma yang saya kenal ketika belajar merajut kupluk ini adalah teknik “knit” dan “purl” serta cast “on”. Saya hanya membutuhkan waktu 3 hari untuk menyelesaikan rajutan kupluk ini. kepikiran untuk menghadiahkan kekasihmu barang bikinan jari kamu sendiri?Penasaran apa itu knit,purl dan cash on? Saya juga baru belajar, tapi berbagi itu menyenangkan. Jadi, Silahkan hubungi saya bagi yang kenal dan mau belajar bersama, ini gratis lho!

Minggu, 07 Desember 2014

rumah kebun, finishing


Masing-masing kita punya penanda sendiri-sendiri untuk mengingat segala hal yang telah lewat.menghadirkan emosi yang berganti-ganti. Mulai dari music, bau, benda, apapun yang bisa menghadirkan suasana diwaktu tertentu jika semua komposisinya datang secara tepat.

Misalnya jika lagu my ship isn’t  pretty-kings of convenience mengalun.maka Ingatan saya akan berkejaran pada musim hujan di rumah pria bermata lebam dengan tawa menggelegar dan tatapan kesalnya mendapatiku lancang mendobrak pintu kamarnya hingga rusak.

society_eddie vedder, saya teringat pada sebuah malam, dimana ada pria bermata purnama yang bercerita panjang lebar dan hanya sesekali ku tanggapi dengan jawaban iya atau tidak atau malah hanya tawa pun sedikit senyum ketika dia bertanya, dan saya berani menyerahkan seluruh hatiku malam itu juga. Itulah kali pertama saya menonton film in to the wild.

Bob Dylan_blowing in the wind. Rumah kebun di atas bukit dengan orang-orang yang menyenangkan dan selalu membuat rindu.

“Kadang-kadang kita harus mencoba memakai kostum yang lain dari biasanya, mungkin kau kenakan dress hitam dan saya kenakan jas hitam, lalu kita kesini lagi menyaksikan bulan sambil bercerita tentang apa saja”  ucap pria bermata purnama suatu malam, entah malam keberapa kami kembali ke atas balkon dan berpura-pura sedang di atas bukit. Berbaring memandangi langit hingga ketiduran, lalu dingin memaksa kami pindah ke ruang tertutup. Sampai sekarang, saya selalu punya cara untuk kembali kemasa itu lewat bau tanah basah atau aroma dinding lembab

Saya lupa ini hari keberapa setelah kami memutuskan untuk mendirikan rumah kebun di halaman belakang rumah mungil ini. Saya tak ingin mengingat-ngingat, terlebih karena ingatan sudah begitu sesak dengan rentetan kejadian yang semakin  Menegaskan bahwa Negara adalah musuh.  yang saya tau, postingan ini telat hadir..Rumah kebun di belakang rumah baru saja selesai. Sepanjang kami membuatnya, sepanjang itu pula kabar menyedihkan datang berentetan. Rumah kebun sebagai penanda.yeah, I know it

Senin, 24 November 2014

Rumah Kebun Bikin Sendiri

Hari pertama……
Dengan perasaan riang gembira di iringi nyanyian alam, kami membangun sebuah parapara yang nantinya akan kami beri dinding dan atap seadanya, menyerupai rumah kebun. Lebih dikenal sebagai walewale dikampungku. Bahan-bahannyapun tak sampai membuat kami harus merogoh kocek yang tak pernah surplus Cukup kayu dan bambu sisa dari pembangunan rumah di sebelah rumah kami. Tukang-tukangnya kerap melemparkannya ke samping rumah.


Sebuah spontanitas. Pengadaan dadakan yang datang dari mimpi berhari yang lampau, ingin punya rumah kayu gantung jika tak ada rumah pohon. Bukankah hal-hal tanpa rencana selalu mengundang keseksian? Seperti pagutan pertama dibibir dua tahun silam.


Jadilah sore kemarin di bawah langit yang menggantung gumpalan hujan dari timur, kami mulai menggergaji dan mengumpulkan kayu-kayu berserakan. Batu-batu yang di hamburkan oleh tukang dari atas rumah sebelahpun ternyata sangat berguna untuk menimbun permukaan tanah yang menipis. Disini, di musim ini,Banjir selalu datang tepat waktu bahkan mendahului kesiapan ketika hujan deras turun selama 45 menit tanpa jeda.


malam datang terlalu cepat kali ini. Tapi semangat kami untuk merampungkan walewale tak mengendur barang sedikit. Maka beraksilah peka mencopot lampu kamar mandi untuk di pindahkan ke halaman belakang sebagai penerang. Sayang, colokan penghubung lampu bermasalah yang berujung pada korsleting. Lampu padam dan kami tak kuasa untuk memperbaiki sendiri, meteran dol.


Potongan-potongan kayu yang sudah di gergaji kami rapikan menunggu besok. Ketiga pemuda dari pulau di ujung tenggara Sulawesi itu bubar sambil bersungut-sungut. Kesal sambil sesekali memaki menyayangkan lampu yang memotong kegembiraan mereka. Kami bergeser, mengungsikan diri ke rumah marlan, kawan yang terlibat membuat walewale sore tadi. Selanjutnya, kami kembali bercinta dengan asap kemalasan hingga tertidur.


HARI KEDUA…..

Bagi kalian yang pernah bertandang ke rumah kami. Baik kuceritakan letak rumah kebun ini. Rumah bercat ceria sepotong dari tampak depan, beralamat di btn bung blok A5 no 10, jika kalian pernah masuk sampai keruang tengah yang merangkap dapur lalu membuka pintu dapur seraya melayangkan pendang ke seluruh sisi halaman belakang rumah. Nah, di sudut sebelah selatan itulah letaknya, tepatnya di samping sebuah pohon kecil tempat kami menambatkan tali jemuran. Berdekatan dengan dinding tentangga belakang rumah yang di penuhi graffiti seorang kawan.


Bagi kalian yang belum pernah bertandang kerumah kami dan penasaran ingin melihat, marilah kemari! Namun jika kalian tak tertarik sama sekali dan kebetulan membaca ini, silahkan tutup karena ini akan sangat membosankan bagi kalian!

***

Cuaca dingin tadi subuh yang tiba-tiba berganti panas siang ini merangsang kami untuk meninggalkan tempat tidur secepat mungkin. Berkejaran dengan hujan yang turun tertahan, kami melaju menuju kantor pln di daya, dengan niat melaporkan kejadian semalam kepada pihak yang berwenang dan berkeahlian,eh. 


Setelah melaporkan kejadian. Kami kembali kerumah menunggu petugas PLN, menunggu laono dan lamarlan yang masih tertidur pulas ketika kami meninggalkan rumahnya tadi.lamana,….


Ang ing eng…. Setelah penantian selam 3 jam. Datanglah marlani dan ono yang menambah ketegangan dan kecurigaan tentang bakal telatnya kedatangan petugas PLN kali ini. Kami melanjutkan pekerjaan yang terpotong kemarin. Kayu, gergaji, pahat, parang dan paku saling beradu. Saya yang tak begitu menyukai kegiatan memotong-motong benda keras seperti kayu memutuskan untuk menggosok panci memakai arang dari bekas pembakaran ikan. #clingg


Sebelum malam kembali memergoki, walewale sudah separuh rampung. Seluruh kakinya sudah lengkap, lengkap dengan tiang-tiang penghubung setiap sisi.

Lihat ini!! Oh tidakkkk!


(lamarlan,laono dan peka berhasil mendirikan kaki walewale)


(nah, ini dia nih panci yang saya gosok tadi. kinclong kan?)


Kami akan merampungkannnya besok , berhubung penerang yang terbatas.


Dan tibalah malam dengan sempurna. Petugas PLN tak kunjung datang. Harapan kami kembali pupus. Makian dilontarkan ke sembarang arah dan orang. Bogem mentah kami rencanakan dengan tak terlalu serius untuk kenalan yang tidak menyenangkan berinisial "Her". 


Beruntung seluruh malam batal kami lewati dalam gelap maupundi rumah pengungsian. Petugas PLN datang setelah peka menyusul mereka ke kantornya dengan berondongan ancaman. Nah, untung ada saya kan? Tulisan “untuk pelayanan teknis, melayani 24 jam” itu kulihat samar-samar dari kejauhan tempatku duduk sambil makan gabin. Bagi kalian yang dimintai uang oleh teknisi PLN yang datang ke rumah seperti ini, JANGAN KASI, INI GRATIS!











































Senin, 16 September 2013

kebun dipekarangan rumah kami

(tanah siap digarap)


Akhirnya dia kembali :D. la menturu. Haha. Saya kebingungan, ekspresi apa yang harus saya tunjukkan saat ini. Yang pasti saya sangat bahagia. Tapi kali ini saya tidak hendak bercerita tentang dia. Tapi tentang sebuah kebun kecil di pekarangan rumah kami. Nah, la menturu inilah yang paling berperan dalam pembuatan sekaligus perancangannya. Waduhh...kuatt sekali ini anak pulau.

Senin, 27 Mei 2013

semoga kita semua dapat belajar dari hal-hal kecil yang kita lakukan bersama-sama (sebuah refleksi dari aksi sablon gratis dan nonton bareng)


Masih dari ruang kecil insominasi. Acara yang kami rencanakan beberapa hari yang lalu akhirnya terlaksana hari ini kamis 23 mei 2013, lancarr. Banyak yang antusias ikut meramaikan acara meski sebagian teman yang diharapkan datang tak datang. Tak mengapa, acaranya tetaplah menyenangkan meski lelah sebab kami kurang tidur sejak  dua malam yang lalu.

sejak malam pertama kehadiran infocus diruang insominasi. Susah tidur kami bertambah parah. Kami bersama dengan la jasmudin sibuk mempersiapkan perlengkapan acara, menyediakan layar, bersi-bersih, dan memastikan kelengkapan yang lain terpenuhi. Sebenarnya kami telah saling menyarankan satu sama lain untuk tidur lebih awal. Tapi selalu saja kami menunggu pagi untuk bisa tidur. Insominasi, pecinta malamlah. Hiihi.

Pesan dari Aksi Sablon Gratis dan Nonton Bersama


'Sebuah Deklarasi Anti Kapitalisme'

            Iya! Kami percaya dan tetap bersiteguh tentang sebuah 'dunia yang lain itu mungkin'; bahwa hidup yang lebih baik & menyenangkan itu ada, bahwa pertemanan yang horizontal dan equil itu sangat menyenangkan, dan ini praktis; bukan imaji yang kalian tonton di TV. Ini adalah sebuah aksi sederhana yang kami persembahkan untuk semua, karena tak seorangpun ingin meninggalkan hasrat untuk bersenang-senangnya, terlebih untuk menggantikannya dengan berhala bernama Uang.

Selasa, 26 Maret 2013

Fokus! Harap Tenang! Kita sedang belajar Menyablon


Ada begitu banyak cara untuk menghalau kerakusan kapitalisme. Tentunya!, selain membaca literatur tentang anti kapitalisme dan segala tetekbengeknya, kita juga mesti mengembangkan satu projeksi dimana perjuangan sosial dan kehidupan harian saling dipadupadankan, bahkan nyaris tak terpisahkan antara satu dan yang lainnya. Yang terpenting adalah Kepraktisan sifat perlawanan kita; ya!ciptakanlah aksi langsung atau tandingannya (counter culture), berbuatlah sekarang, jangan menunggu, apalagi harus membusuk didalam kerangkeng Kontrol dan Racun konsumerisme.

Selasa, 05 Maret 2013

Membuat Sendiri itu Lebih Membahagiakan lho,serius!


                                    

            Kita hidup dizaman dimana segalanya perlahan berubah menjadi komoditas, itu berarti kebutuhanmu terancam tak akan terpenuhi jika kau tak membeli. Olehnya, uangpun diberhalakan.

            Adalah sesuatu yang biasa jika kita menjumpai hal seperti ini, perdebatan mengenai merek apa yang lebih bagus, juga betapa bangganya seseorang menyebut besarnya pengeluaran mereka dalam sebulan hanya untuk berbelanja demi pemenuhan kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan bukan lagi karena butuh,tapi berubah sebagai upaya untuk mengomunikasikan status sosial di masyarakat. Wah,gawat! Pertama-tama segalanya dirubah menjadi komoditas, lalu kita di paksa untuk berbelanja ,lagi,lagi dan lagi.

            Belanja sudah seperti candu yang membuat ketergantungan,sebagai upaya untuk beradaptasi dengan lingkungan yang dikepung oleh hantu konsumerisme tentunya. Jika kalian bangga dengan hal-hal seperti itu, maka tidak dengan kami. Ini adalah upaya kami untuk menunjukkan bahwa uang dan belanja bukanlah hal yang penting. Bahwa pemenuhan kebutuhan adalah untuk memperoleh fungsi dari sesuatu secara tak berlebihan, dan bahwa setan konsumerisme bisa di lawan dengan “membuat sendiri”.